Sabtu, 13 Oktober 2012

JURNAL SKRIPSI



KARAKTERISTIK ANTROPOMETRIK DAN KEBUGARAN JASMANI  SISWA SSB IPI GS BANDUNG YANG BERUSIA
 ANTARA 11-15 TAHUN

Unang Muntahar
Abstrak
Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga permainan yang menuntut memiliki antropometrik (struktur tubuh) yang ideal dan memerlukan tingkat kebugaran jasmani yang baik, namun pembinaan sepakbola di Indonesia yaitu di Sekolah Sepakbola (SSB) khususnya di SSB IPI GS Bandung belum sepenuhnya memperhatikan pentingnya antropometrik dan kebugaran jasmani.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan Pengukuran antropometrik mencakup enam butir yaitu pengukuran berat badan, tinggi badan, panjang lengan, panjang tungkai, lebar dada dan lingkar lengan. Tes Kebugaran Jasmani yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bleep test (tes lari multitahap). Sampel dalam penelitian ini adalah  siswa SSB IPI GS (Geger Sunten) Bandung yang berusia antara 11-15 tahun sebanyak 30 orang

Kata kunci : Karakteristik, antropometrik, kebugaran jasmani, sepakbola, siswa.


Pendahuluan
Sepakbola merupakan olahraga yang menggerakkan seluruh tubuh, selain mempunyai tujuan untuk meningkatkan keterampilan gerak juga memiliki tujuan lain seperti menguatkan jantung dan paru sehingga membantu melancarkan peredaran darah.
Sepakbola adalah salah satu cabang olahraga permainan yang sangat dikenal dan digemari masyarakat diseluruh dunia. Demikian juga di Indonesia, permainan ini dikenal dan dimainkan oleh sebagian besar lapisan masyarakat mulai dari anak-anak, remaja maupun orang tua, bahkan para wanita pun menggemari dan dapat memainkan olahraga ini.
Meningkatnya minat anak-anak terhadap olahraga sepakbola, kini semakin banyak didirikan Sekolah Sepakbola (SSB) yang merupakan wadah untuk menyalurkan minat dan bakat anak-anak serta sekaligus sebagai tempat pembinaan dan pengembangan potensi anak-anak pada usia muda. Keberadaan SSB ini tentunya telah memberikan angin positif dalam pembinaan atlet usia dini. Pemberian latihan dasar yang teratur sesuai dengan norma-norma dan prinsif-prinsif ilmu kepelatihan olahraga sejak usia dini akan membantu mengembangkan motorik anak sejalan dengan perkembangan usianya. Namun pembinaan sepakbola di Indonesia yaitu di Sekolah Sepakbola (SSB) khususnya di SSB IPI GS Bandung belum sepenuhnya memperhatikan pentingnya antropometrik dan kebugaran jasmani untuk menunjang penampilan dilapangan.
Dalam hal ini ada dua aspek yang ingin diungkap dalam penelitian ini, yaitu antropometrik siswa SSB yang berusia 11-15 tahun dan  kedua kebugaran jasmani siswa SSB yang berusia 11-15 tahun.
Menurut Nurhasan dan Cholil, H. (2007:74) “Antropometrik merupakan ilmu yang berkenaan dengan bangunan atau kontruksi alami tubuh manusia, juga mengkaji variasi perkembangan tubuh manusia, ordinasi fakta fundamental yang berkaitan dengan perkembangan individual dan penelaahan evalusi manusia yang diambil berdasarkan bukti perbandingan antar ras manusia atau dengan nenek moyang manusia. Tes antropometrik adalah bentuk tes dalam bidang keolahragaan yang paling tua. Melalui tes ini kita dapat mengetahui dan menentukan status fisik seseorang apakah itu dari tipe bentuk tubuhnya atau dari komposisi tubuhnya. Pengukuran antropometrik bertujuan untuk mengukur status fisik yang mencakup perkembangan bentuk tubuh dan hubungannya dengan kesehatan, kekebalan suatu penyakit, sikap, kemampuan fisik dan kualitas kepribadian.
Kebugaran jasmani merupakan kecocokan keadaan fisik terhadap tugas yang harus dilaksanakan oleh fisik itu tanpa kelelahan yang begitu berarti. Hal ini dijelaskan oleh Giriwijoyo (2006:23) bahwa Kebugaran jasmani adalah keadaan kemampuan jasmani yang dapat menyesuaikan fungsi alat-alat tubuhnya terhadap tugas jasmani tertentu dan/atau terhadap keadaan lingkungan yang harus diatasi dengan cara efisien tanpa kelelahan yang berlebihan dan telah pulih sempurna sebelum datang tugas yang sama pada esok harinya.
Kebugaran jasmani bersifat relatif yang artinya kebugaran jasmani tidak bebas tetapi bersifat terkait, yaitu terkait secara anatomis dan terkait secara fisiologis. Kebugaran jasmani dapat tercapai dengan berfungsinya organ-organ tubuh secara baik, sehingga manusia dapat melakukan setiap aktivitasnya dengan lancar tanpa hambatan yang mengahalanginya.
Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga permainan yang menuntut memiliki struktur tubuh (antropometrik) yang ideal dan memerlukan kebugaran jasmani yang baik. Oleh karena itu, diperlukan pembinaan dan pemeliharaan kebugaran jasmani, hal ini dimaksudkan untuk keberhasilan pelaksanaan latihan dan perlu adanya kesesuaian antara tugas yang bersifat anatomis dan fisiologis terhadap macam dan intensitas tugas fisik yang harus dilaksanakan. Dalam teori Sheldon (Nurhasan dan Cholil, H. 2007:67) dikemukakan bahwa “struktur jasmani merupakan yang utama berpengaruh terhadap tingkah laku manusia”. Terlebih bagi anak-anak SSB, antropometrik dan kebugaran jasmani merupakan hal terpenting dalam membantu meningkatkan kemampuan dan keterampilan dilapangan.
Dari uraian diatas, maka penulis tertarik untuk meneliti mengenai Karakteristik Antropometrik dan Kebugaran Jasmani Siswa SSB IPI GS (Geger Sunten) Bandung yang berusia antara 11-15 tahun yang kemudian hasilnya disesuaikan dengan standar antropometrik dan kebugaran jasmani siswa SSB di Indonesia.
Rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Bagaimanakah karakteristik antropometrik siswa SSB IPI GS (Geger Sunten) Bandung yang berusia antara 11-15 tahun ? (2) Bagaimanakah tingkat kebugaran jasmani siswa SSB IPI GS (Geger Sunten) Bandung yang berusia antara 11-15 tahun ? (3) Apakah benar karakteristik antropometrik dan kebugaran jasmani siswa SSB IPI GS (Geger Sunten) Bandung yang berusia 11-15 tahun memiliki kesesuaian dengan standar antropometrik dan kebugaran jasmani siswa SSB di Indonesia?.
Tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Untuk memperoleh data dan gambaran karakteristik antropometrik siswa SSB IPI GS (Geger Sunten) Bandung yang berusia antara 11-15 tahun, (2) Untuk memperoleh data dan gambaran tingkat kebugaran jasmani siswa SSB IPI GS (Geger Sunten) Bandung yang berusia antara 11-15 tahun, dan (3) Untuk mengetahui apakah karakteristik antropometrik dan kebugaran jasmani siswa SSB IPI GS (Geger Sunten) Bandung yang berusia 11-15 tahun memiliki kesesuaian dengan standar antropometrik dan kebugaran jasmani siswa SSB berdasarkan kesepakatan para pelatih sepakbola di Indonesia.

Metode Penelitian
Penelitian ini terfokus pada karakteristik antropometrik dan kebugaran jasmani siswa SSB IPI GS (Geger Sunten) Bandung yang berusia antara 11-15 tahun. Populasi penelitian adalah siswa SSB IPI GS (Geger Sunten) Bandung dan sampel penelitian adalah 30 siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia antara 11-15 tahun.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan instrumen penelitian berupa pengukuran untuk mengukur antropometrik dan tes untuk mengetahui tingkat kebugaran jasmani siswa SSB. Pengukuran antropometrik yang dilakukan mencakup enam butir, yaitu: (a)Berat badan; (b) Tinggi badan; (c) Panjang lengan; (e) Panjang tungkai; (e) Lebar dada; dan (f) Lingkar lengan atas. Tes Kebugaran Jasmani yang digunakan dalam penelitian ini adalah Bleep test (tes lari multitahap). Lokasi penelitian di SSB IPI GS (Geger Sunten) Bandung Jalan Dr. Setiabudi Bandung.
Penelitian ini pada dasarnya berupaya mendeskripsikan karakteristik antropometrik dan kebugaran jasmani siswa SSB yang berusia 11-15 tahun. Penelitian lebih menyerupai pemetaan data hasil pengukuran dan hasil tes.

Hasil Penelitian
1.      Hasil Pengukuran Antropometrik
Sebelum melakukan pengolahan data, sampel penelitian dikelompokkkan kedalam dua kelompok berdasarkan kelompok usia siswa yaitu usia 11-13 tahun dan usia 14-16 tahun. Ini dilakukan karena pada bahasan selanjutnya, data hasil penelitian ini akan dibandingkan dengan data pembanding mengenai antropometrik dan kebugaran jasmani siswa SSB yang sudah dibakukan.
Adapun pengelompokkan sampel tersebut dapat dilihat tabel 1.1 dan tabel 1.2, berikut dengan hasil perhitungan skor rata-ratanya.
Tabel 1.1
Hasil Skor Rata-rata dari Pengukuran Antropometrik Siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 11-13 Tahun

No
Nama
Usia
TB
BB
PL
PT
LD
LLA
1
Rf.
11 TH
148,8
35,4
57,3
68,2
22,3
20,2
2
A.F.
11 TH
148,5
38,2
56,8
68,7
22,5
20,4
3
R.A.
11 TH
150,4
39,8
59,8
71,6
23,4
20,7
4
D.B.A.
12 TH
155,4
42,2
64,1
82,2
23,4
20,8
5
Y.N.
12 TH
149,7
38,2
58,5
77,8
19,6
18,7
6
T.H.
12 TH
159,3
41,4
65,0
84,5
24,7
22,3
7
F.J.
12 TH
155,4
39,3
63,0
81,0
22,7
22,3
8
Fe.
13 TH
157,7
47,6
69,7
89,2
27,4
22,3
9
S.P.
13 TH
158,4
48,2
70,3
88,7
27,1
22,2
10
M.A.F.
13 TH
156,4
45,4
69,2
88,7
26,3
22,4
11
M.H.A.
13 TH
157,4
46,7
69,8
88,7
26,4
22,6
12
A.S.L.
13 TH
154,7
43,1
70,4
89,3
27,2
22,8
13
D.R.
13 TH
163,3
41,2
70,2
89,7
26,5
23,2
14
C.A.N.
13 TH
156,5
40,2
69,2
88,3
26,4
22,3
15
I.H.
13 TH
134,4
29,8
57,0
77,2
21,2
19,4
Jumlah ( ∑ )

2306,3
616,7
970,3
1233,8
367,1
322,6
Rata-rata

153,75
41,11
64,68
82,25
24,47
21,50
Ket. TB (Tinggi Badan satuan centimeter), BB (Berat Badan satuan Kg), PL (Panjang Lengan satuan centimeter), PT (Panjang Tungkai satuan centimeter), LD (Lingkar Dada satuan centimeter), LLA (Lingkar Lengan Atas satuan centimeter).

Pada tabel 1.1 menunjukkan hasil perhitungan rata-rata dari ke-enam butir pengukuran antropometrik siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 11-13 tahun. Dari hasil pengukuran antropometrik tersebut diperoleh peta karakteristik antropometrik sebagai berikut :
a.       Berdasarkan hasil pengukuran tinggi badan, ternyata siswa SSB IPI GS Bandung memiliki tinggi badan rata-rata 153,75 cm dengan tinggi badan tertinggi tercatat 163,3 cm dan terpendek 134,4 cm.
b.      Berdasarkan hasil pengukuran berat badan, ternyata siswa SSB IPI GS Bandung memiliki berat badan rata-rata 41,11 Kg dengan berat badan terberat tercatat 48,2 Kg dan teringan 29,8 Kg.
c.       Berdasarkan hasil pengukuran panjang lengan, ternyata siswa SSB IPI GS Bandung memiliki panjang lengan rata-rata 64,68 cm dengan panjang lengan terpanjang tercatat 70,4 cm dan terpendek 56,8 cm.
d.      Berdasarkan hasil pengukuran panjang tungkai, ternyata siswa SSB IPI GS Bandung memiliki panjang tungkai rata-rata 82,25 cm dengan panjang tungkai terpanjang tercatat 89,7 cm dan terpendek 68,2 cm.
e.       Berdasarkan hasil pengukuran lingkar dada, ternyata siswa SSB IPI GS Bandung memiliki lingkar dada rata-rata 24,47 cm dengan lingkar dada terlebar tercatat 27,4 cm dan tersempit 19,6 cm.
f.       Berdasarkan hasil pengukuran lingkar lengan atas, ternyata siswa SSB IPI GS Bandung memiliki lingkar lengan rata-rata 21,50 cm dengan lingkar lengan terbesar tercatat 23,2 cm dan terkecil 18,7 cm.
Tabel 1.2
Hasil Skor Rata-rata dari Pengukuran Antropometrik Siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 14-15 Tahun

No
Nama
Usia
TB
BB
PL
PT
LD
LLA
1
F.B.
14 TH
160,2
50,4
75,2
92,0
28,8
25,0
2
I.S.
14 TH
161,2
52,3
71,2
93,7
27,8
26,0
3
Z.P.
14 TH
164,4
50,7
74,2
96,3
27,8
26,2
4
C.E.S.
14 TH
163,2
41,3
74,0
95,0
29,0
22,0
5
M.M.N.
14 TH
156,8
47,5
64,0
90,4
29,1
23,3
6
An.
14 TH
163,5
55,3
72,0
92,5
25,5
24,7
7
M.R.
14 TH
162,3
58,4
70,0
95,0
31,0
26,0
8
E.M.
14 TH
156,0
53,6
64,7
89,0
25,3
25,0
9
T.H.
14 TH
158,0
51,7
72,0
91,0
28,0
25,0
10
M.I.
15 TH
171,0
60,7
73,0
96,3
29,6
27,4
11
A.G.
15 TH
170,0
50,0
76,3
99,1
29,2
23,4
12
Gn.
15 TH
166,8
49,7
72,0
92,1
31,4
26,7
13
Ru.
15 TH
167,4
55,2
72,2
95,3
28,1
26,6
14
Gl.
15 TH
168,2
58,7
71,0
94,4
28,5
26,2
15
R.I.
15 TH
169,5
58,7
72,4
95,2
29,0
26,8
Jumlah ( ∑ )

2458,5
794,2
1074,2
1404,3
428,1
380,3
Rata-rata

163,9
52,94
71,61
93,62
28,54
25,35
Ket. TB (Tinggi Badan satuan centimeter), BB (Berat Badan satuan Kg), PL (Panjang Lengan satuan centimeter), PT (Panjang Tungkai satuan centimeter), LD (Lingkar Dada satuan centimeter), LL (Lingkar Lengan Atas satuan centimeter).

Berdasarkan tabel 1.2 menunjukkan hasil perhitungan rata-rata dari ke-enam butir pengukuran antropometrik siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 14-15 tahun. Dari hasil pengukuran antropometrik tersebut diperoleh peta karakteristik antropometrik sebagai berikut :
a.       Berdasarkan hasil pengukuran tinggi badan, ternyata siswa SSB IPI GS Bandung memiliki tinggi badan rata-rata 163,9 cm dengan tinggi badan tertinggi tercatat 171,0 cm dan terpendek 156,0 cm.
b.      Berdasarkan hasil pengukuran berat badan, ternyata siswa SSB IPI GS Bandung memiliki berat badan rata-rata 52,94 Kg dengan berat badan terberat tercatat 60,7 Kg dan teringan 41,3 Kg.
c.       Berdasarkan hasil pengukuran panjang lengan, ternyata siswa SSB IPI GS Bandung memiliki panjang lengan rata-rata 71,61 cm dengan panjang lengan terpanjang tercatat 76,3 cm dan terpendek 64,0 cm.
d.      Berdasarkan hasil pengukuran panjang tungkai, ternyata siswa SSB IPI GS Bandung memiliki panjang tungkai rata-rata 93,62 cm dengan panjang tungkai terpanjang tercatat 99,1 cm dan terpendek 89,0 cm.
e.       Beradasarkan hasil pengukuran lingkar dada, ternyata siswa SSB IPI GS Bandung memiliki lingkar dada rata-rata 28,54 cm dengan lingkar dada terlebar tercatat 31,4 cm dan tersempit 25,3 cm.
f.       Beradasarkan hasil pengukuran lingkar lengan atas, ternyata siswa SSB IPI GS Bandung memiliki lingkar lengan rata-rata 25,35 cm dengan lingkar lengan terbesar tercatat 27,4 cm dan terkecil 22,0 cm.
2.      Hasil Tes Lari Multitahap (Bleep test)
Tes ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kebugaran jasmani siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 11-15 tahun dalam mengukur tingkat efisiensi fungsi jantung dan paru-paru yang ditunjukkan melalui pengukuran ambilan oksigen maksimum (Maximum Oxygen Uptake).
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel pada tabel 2.1 pada halaman berikut.










Tabel 2.1
VO2Max. dan Pemberian Kategori terhadap Hasil Tes Lari Multitahap (Bleep Test) Siswa SSB IPI GS Bandung berusia 11-15 Tahun

No.
Nama
Usia
VO2Max
Kategori
1
Rf.
11 TH
29,7
Kurang
2
A.F.
11 TH
33,6
Kurang
3
R.A.
11 TH
31,4
Kurang
4
D.B.A.
12 TH
38,1
Cukup
5
Y.N.
12 TH
35,7
Kurang
6
T.H.
12 TH
34,6
Kurang
7
F.J.
12 TH
32,9
Kurang
8
Fe.
13 TH
35,3
Kurang
9
S.P.
13 TH
37,4
Cukup
10
M.A.F.
13 TH
33,9
Kurang
11
M.H.A.
13 TH
37,1
Cukup
12
A.S.L.
13 TH
37,8
Cukup
13
D.R.
13 TH
37,8
Cukup
14
C.A.N.
13 TH
39,2
Cukup
15
I.H.
13 TH
39,5
Cukup
16
F.B.
14 TH
42,7
Cukup
17
I.S.
14 TH
37,8
Cukup
18
Z.P.
14 TH
34,3
Kurang
19
C.E.S.
14 TH
46,8
Cukup
20
M.M.N.
14 TH
45,5
Cukup
21
An.
14 TH
41,1
Cukup
22
M.R.
14 TH
46,2
Cukup
23
E.M.
14 TH
43,3
Cukup
24
T.H.
14 TH
44,5
Cukup
25
M.I.
15 TH
48,4
Baik
26
A.G.
15 TH
46,8
Cukup
27
Gn.
15 TH
48,4
Baik
28
Ru.
15 TH
45,5
Cukup
29
Gl.
15 TH
43,3
Cukup
30
R.I.
15 TH
47,9
Cukup
Jumlah ( ∑ )

1196,5

Rata-rata

39,88
Cukup

Berdasarkan tabel 2.1 menunjukkan hasil rata-rata dan pemberian kategori terhadap tingkat kebugaran jasmani (bleep test) siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 11-15 tahun. Dari hasil tes tersebut didapatkan VO2Max. rata-rata 39,88 dan dikategorikan cukup dengan VO2Max. tertinggi adalah 48,4 dan VO2Max. terendah 29,7.

3.      Standar Karakteristik Antropometrik dan Kebugaran Jasmani Pembanding
a.      Standar Karakteristik Antropometrik Pembanding
Standar baku ini disesuaikan dengan usia spesialisasi anak untuk olahraga sepakbola sekaligus sebagai panduan umum bagi pelatih sepakbola anak usia dini di Indonesia yaitu : (1) Usia pengenalan 10-12 tahun, (2) Usia spesialisasi 11-13 tahun, (3) Usia berprestasi (Golden Age) 18-24 tahun.
Tabel 3.1
Standar Antropometrik untuk Siswa SSB
yang berusia 11-13 Tahun dan 14-16 Tahun di Indonesia

Kelompok umur
Tinggi badan
Berat badan
Panjang lengan
Panjang tungkai
Lebar dada
Lingkar lengan Atas
11 – 13 tahun
150-159 cm
40-49 Kg
65-69 cm
80-84 cm
20-24 cm
20-24 cm
14 – 16 tahun
160-169 cm
50-59 Kg
70-74 cm
85-89 cm
25-29 cm
25-29 cm
Sumber : Diktat Panduan Umum Pelatih SSB
b.      Standar Karakteristik Kebugaran Jasmani Pembanding
Dalam teori motorik, anak akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat apabila diberikan ruang gerak seluas-luasnya dan diberikan pembimbingan yang terpadu dan teratur untuk menyalurkan bakat yang dimiliki anak, dalam hal ini, orang tua dan pelatih sangat penting peranannya.
Dalam olahraga sepakbola khususnya siswa SSB, anak akan senantiasa bergaul dan memiliki banyak teman serta mendapat ruang untuk bermain sehingga anak SSB cenderung memiliki kepercayaan diri yang baik. Secara tidak sadar, orang tua yang memasukan anaknya ke Sekolah Sepakbola atau klub olahraga lainnya telah membantu anaknya dalam proses perkembangan motoriknya beserta kebugaran jasmani anak akan selalu terpelihara dengan baik.
Apapun tes dan norma yang digunakan seharusnya siswa SSB harus memiliki standar tingkat kebugaran jasmani yang BAIK. Standar VO2max untuk siswa SSB yang biasa rutin berlatih berkisar antara 40-47 L/m. dan bahkan bisa mencapai 50 L/m.
Norma tes ini dapat diberlakukan untuk anak yang sudah berada pada tahap usia spesialisasi ke atas untuk cabang olahraga masing-masing. Sebelum ke tahap usia spesialisasi atau pada tahap usia pengenalan cabang olahraga, tes kebugaran jasmani tidak diperbolehkan.
Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa siswa SSB yang berada pada usia spesialisasi yaitu usia antara 11-13 tahun dan 14-16 tahun harus memiliki tingkat kebugaran jasmani yang baik dengan kisaran VO2Max. antara 40-50 L/m.
1.      Perbandingan Karakteristik Antropometrik dan Kebugaran Jasmani Hasil Penelitian dengan Standar Karakteristik Antropometrik dan Kebugaran Jasmani Pembanding
Tabel 4.1
Perbandingan Karakteristik Antropometrik
Hasil Penelitian Siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 11-13 Tahun dengan Standar Antropometrik Pembanding

No
Butir Pengukuran Antropometrik
Nilai Rata-rata Antropometrik Hasil Penelitian
Standar Antropometrik Pembanding
Keterangan
1
Tinggi badan
153,75 cm
150 - 159 cm
Sesuai
2
Berat badan
41,11 Kg
40 - 49 Kg
Sesuai
3
Panjang lengan
64,68 cm
65 - 69 cm
Sesuai
4
Panjang tungkai
82,25 cm
80 - 84 cm
Sesuai
5
Lebar dada
24,47 cm
20 - 24 cm
Sesuai
6
Lingkar lengan atas
21,50 cm
20 - 24 cm
Sesuai

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan nilai rata-rata dari pengukuran ke-enam butir antropometrik siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 11-13 tahun yang dibandingkan dengan standar antropometrik pembanding untuk diketahui kesesuaiannya, dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.       Berdasarkan butir tinggi badan diperoleh nilai rata-rata 153,75 cm dengan standar tinggi badan pembanding berkisar antara 150-159 cm dan dinyatakan sesuai.
b.      Berdasarkan butir berat badan diperoleh nilai rata-rata 41,11 Kg dengan standar berat badan pembanding berkisar antara 40-49 Kg dan dinyatakan sesuai.
c.       Berdasarkan butir panjang lengan diperoleh nilai rata-rata 64,68 cm dengan standar panjang lengan pembanding berkisar antara 65-69 dan dinyatakan sesuai.
d.      Berdasarkan butir panjang tungkai diperoleh nilai rata-rata 82,25 cm dengan standar panjang tungkai pembanding berkisar antara 80-84 dan dinyatakan sesuai.
e.       Berdasarkan butir lebar dada diperoleh nilai rata-rata 24,47 cm dengan standar lebar dada pembanding berkisar antara 20-24 dan dinyatakan sesuai.
f.       Berdasarkan butir lingkar lengan atas diperoleh nilai rata-rata 21,50 dengan standar lingkar lengan pembanding berkisar antara 20-24 dan dinyatakan sesuai.
Secara keseluruhan karakteristik antropometrik siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 11-13 tahun memiliki kesesuaian dengan standar antropometrik pembanding dan tidak ada perbedaan yang dominan antara karakteristik antropometrik hasil penelitian dengan karakteristik antropometrik pembanding.
Tabel 4.2
Perbandingan Karakteristik Antropometrik
 Hasil Penelitian Siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 14-15 Tahun dengan Standar Antropometrik Pembanding  
No
Butir Pengukuran Antropometrik
Nilai Rata-rata Antropometrik Hasil Penelitian
Standar Antropometrik Pembanding
Keterangan
1
Tinggi badan
163,9 cm
160 - 169 cm
Sesuai
2
Berat badan
52,94 Kg
50 - 59 Kg
Sesuai
3
Panjang lengan
71,61 cm
70 - 74 cm
Sesuai
4
Panjang tungkai
93,62 cm
85 - 89 cm
Tidak sesuai
5
Lebar dada
28,54 cm
25 - 29 cm
Sesuai
6
Lingkar lengan atas
25,35 cm
25 - 29 cm
Sesuai
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan nilai rata-rata dari pengukuran ke-enam butir antropometrik siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 14-15 tahun yang dibandingkan dengan standar antropometrik pembanding untuk diketahui kesesuaiannya, dapat dijelaskan sebagai berikut :
a.       Berdasarkan butir tinggi badan diperoleh nilai rata-rata 163,9 cm dengan standar tinggi badan pembanding berkisar antara 160-169 cm dan dinyatakan sesuai.
b.      Berdasarkan butir berat badan diperoleh nilai rata-rata 52,94 Kg dengan standar berat badan pembanding berkisar antara 50-59 Kg dan dinyatakan sesuai.
c.       Beradasarkan butir panjang lengan diperoleh nilai rata-rata 71,61 cm dengan standar panjang lengan pembanding berkisar antara 70-74 dan dinyatakan sesuai.
d.      Berdasarkan butir panjang tungkai diperoleh nilai rata-rata 93,62 cm dengan standar panjang tungkai pembanding berkisar antara 85-89 dan dinyatakan tidak sesuai.
e.       Berdasarkan butir lebar dada diperoleh nilai rata-rata 28,54 cm dengan standar lebar dada pembanding berkisar antara 25-29 dan dinyatakan sesuai.
f.       Berdasarkan butir lingkar lengan atas diperoleh nilai rata-rata 25,35 dengan standar lingkar lengan pembanding berkisar antara 25-29 dan dinyatakan sesuai.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat satu butir pengukuran antropometrik hasil penelitian yang tidak sesuai dengan antropometrik pembanding yaitu pada butir panjang tungkai di atas standard.
Tabel 4.4
Perbandingan Hasil Tes Kebugaran Jasmani (Bleep Test) Siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 11-15 Tahun dengan Standar Kebugaran Jasmani Pembanding

No
Tes kebugaran jasmani
Skor rata-rata tes kebugaran jasmani (VO2Max.)
Standar kebugaran jasmani
(VO2Max.)
Ket.
1
Bleep test
Skor
Kategori
Skor
Kategori
Tidak sesuai
39,88
Cukup
40-50 L/m
Baik

Pada tabel 4.4 menunjukkan VO2Max. rata-rata  siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 11-15 tahun dengan skor 39,88 dengan kategori cukup. Sedangkan untuk standar kebugaran jasmani pembanding harus memiliki VO2Max. berkisar antara 40-50 dengan kategori baik.
Dengan demikian, tingkat kebugaran jasmani siswa SSB IPI GS Bandung ditinjau dari VO2Max. dinyatakan tidak sesuai dengan standar kebugaran jasmani yang seharusnya dimiliki oleh setiap siswa SSB.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data maka penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Dari keenam butir pengukuran antropometrik yang telah dilakukan oleh peneliti, terhadap siswa SSB IPI GS Bandung diperoleh data sebagai berikut : (a) Siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 11-13 tahun memiliki tinggi badan rata-rata 153,75 cm, memiliki berat badan rata-rata 41,11 kg, memiliki panjang lengan rata-rata 64,68 cm, memiliki panjang tungkai rata-rata 82,25 cm, memiliki lebar dada rata-rata 24,47 cm dan memiliki lingkar lengan atas rata-rata 21,50 cm, (b) Siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 14-15 tahun memiliki tinggi badan rata-rata 163,9 cm, memiliki berat badan rata-rata 52,94 kg, memiliki panjang lengan rata-rata 71,61 cm, memiliki panjang tungkai rata-rata 93,62 cm, memiliki lebar dada rata-rata 28,54 cm dan memiliki lingkar lengan atas rata-rata 25,35 cm.
2.      Untuk hasil tes kebugaran jasmani, siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 11-15 tahun memiliki VO2Max. rata-rata 39,88 dengan kategori cukup.
3.      Dari keenam butir pengukuran antropometrik yang telah dilakukan, yaitu pengukuran terhadap tinggi badan, berat badan, panjang lengan, panjang tungkai, lebar dada dan lingkar lengan atas, (a) ternyata siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 11-13 tahun memiliki karakteristik antropometrik yang sesuai dengan standar antropometrik pembanding, (b) ternyata siswa SSB IPI GS Bandung yang berusia 14-15 tahun hanya memiliki satu butir antropometrik yang tidak sesuai dengan standar antropometrik pembanding yaitu butir pengukuran panjang tungkai di atas standar, dan untuk butir pengukuran antropometrik yang lainnya dinyatakan sesuai dengan standar antropometrik pembanding, dan (c) Untuk hasil tes kebugaran jasmani, siswa SSB IPI GS Bandung berada pada kategori cukup dengan memiliki VO2Max. rata-rata 39,88 dan jika disesuaikan dengan standar VO2Max. yang harus dimiliki oleh siswa SSB di Indonesia (40-50) dinyatakan tidak sesuai.

Saran
1.      Usahakan dalam pembinaan sepakbola khususnya di Sekolah Sepakbola (SSB) harus memperhatikan antropometrik (struktur tubuh) dan tingkat kebugaran jasmani yang sesuai dengan standar nasional.
2.      Pada saat pendaftaran atau perekrutan calon siswa pelatih harus memonitor calon siswa terlebih dahulu, bila perlu diadakan proses seleksi. Ini penting untuk mencari bibit-bibit atlet sepakbola potensial di masa mendatang, tidak hanya faktor ekonomi yang diperhatikan.
3.      Pelatih harus pandai menyusun program latihan sesuai dengan tahap-tahap usia siswa, supaya tidak terjadi salah latihan. Program latihan ini harus memiliki tujuan jelas dan tepat, apakah untuk pembinaan atlet sepakbola prestasi atau hanya untuk rekreasi.

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. (2004). Prisip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Anonim. (2007). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung : UPI.
 Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Arikunto, S. (2007). Manajement Penelitian. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Fadlyana, E. (2006). Jurnal Aplikasi Kurva Pertumbuhan dalam Deteksi Dini untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Anak. Bandung : Fakultas Kedokteran UNPAD.
Giriwijoyo, Santoso. (2006). Ilmu Faal Olahraga. Bandung : FPOK.
Giriwijoyo, Santoso. (2007). Ilmu Kesehatan Olahraga (Sport Medicine). Bandung : FPOK.
Harsono. (1988). Coaching dan Aspek-aspek Psikologis dalam Coaching. Jakarta : CV. Tambak Kusuma
Herwin. (2006). Jurnal Latihan Fisik untuk Usia Muda. FIK UNY.
Imanudin, I. (2008). Ilmu Kepelatihan Olahraga. Bandung : FPOK UPI.
Irianto, Kus. (2004). Gizi dan Pola Hidup Sehat. Bandung : CV. Yrama Widya.
Lutan, R. (2001). Pengembangan Sistem Pembelajaran Modul Mata Kuliah Penelitian Pendidikan Olahraga. Bandung : FPOK UPI.
Makmun, A. Syamsuddin. (2001). Psikologi Kependidikan perangkat sistem pengajaran modul. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Nurhasan dan Cholil, H. (2007). Pengembangan Sistem Pembelajaran Modul Tes dan Pengukuran Keolahragaan. Bandung : FPOK UPI.
Saputra, Y.M. dan Badruzaman. (2009). Perkembangan Pembelajaran Motorik. Bandung : FPOK UPI.
Sucipto, dkk. (2000). Sepak bola. Bandung : FPOK UPI.
Surakhmad. (1990). Pengantar Ilmiah Dasar dan Metode Teknik. Bandung : Tarsito.
 


Penulis :
Unang Muntahar, S.Si., memperoleh gelar Sarjana Science dari Program Studi Ilmu Keolahragaan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar